TRANSLATE THIS BLOG

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kamis, 17 November 2011

MUJADDIDIN DAN SEKOLAH DOOBAN


3
 


MUJADDIDIN DAN SEKOLAH  DOOBAN
A.      Sejarah Lahirnya Gerakan Mujaddidin di India
Terjadinya gerakan pembaharuan di India dilatarbelakangi oleh factor kesenjagan perlakuan inggris terhadap umat hindu dan umat Islam dalam sistem pemerintahan, serta kesemenah-menahan inggris terhadap rakyat India.
Sejak awal abad XVIII kekuasaan Islam Mongol yang berpusat di Delhi semakin merosot. Lemahnya kemampuan serta kewibawaan sultan tidak dapat mengahalangi kehendak para amir akan melepaskan diri dan berkuasa penuh di wilayah mereka. Selain itu kaum Brahmana mulai bergerak ingin membangun kembali kerajaan Hindu. Rakyat Maratha yang sebelumnya telah berulangkali memberontak dan bergerilya, akhirnya berhasil membebaskan diri dan mendirikan kerajaan Hindu yang merdeka di India Barat. Demikian pula golongan Sikh memenangkan pemberontakannya.
Bangsa Inggris semenjak permulaan abad XVII telah tiba di India sebagai pedagang dengan angkatannya yang bernama "The East India Company." Mengetahui pertentangan-pertentangan antara sesama wilayah bawahan kesultanan Islam di satu pihak, dan antara Kesultanan Islam dan bekas kerajaan Hindu sebagai taklukannya di pihak lain, akhirnya bangsa Inggris melaksanakan politik mengail di air keruh. Selera mereka tumbuh hendak menguasai wilayah, terutama di sekitar pabrik-pabrik yang telah mereka dirikan.
Dengan politik adu domba yang lihai, mereka berhasil. Madras dikuasai pada tahun 1639. Kota Bombay tahun 1660 jatuh pula ke tangan mereka. Demikianlah selanjutnya dengan kekuatan bedil, politik adu-domba dan senjata uang, dilumpuhkannya kekuasaan hakiki kesultanan Islam Mongol. Walupun sesekali memberontak, tetapi tetap bisa dikalahakan oleh Inggris. Hal yang sama diderita pula oleh raja-raja Hindu, seperti kerajaan Maratha, yang mencoba melawan Inggris pada tahun 1817-1818
4
 
Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerja sama dengan Inggris. Inggris merupakan penguasa yang terkuat di India dan menentang kekuasaan itu tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India. Hal ini akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindhu India.Sayyid Ahmad dengan golongan Mujaddidinnya mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara. Peperangan ini berbuah kemenangan pada kelompok Mujahidin, mereka dapat menguasai Akora yang merupakan pusat kekuatan golongan Sikh.
Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam.Sistem pemerintahan imamah dibentuk pada tahun 1827, dalam menjalankan tugasnya, imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting.
Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad[1]
Namun, sistem imamah yang didirikan oleh Sayyid Ahmad tidak bertahan lama, golongan Sikh menganggap gerakan Mujahidin mengancam kekuasaan mereka. Golongan Sikh di bantu oleh golongan-golongan non muslim seperti golongan Barakzai melangsungkan pertempuran di Balekot dan pada pertempuran inilah Sayyid Ahmad mati terbunuh.
Menurut Harun Nasution setelah meninggal Sayyid Ahmad, para pengikutnya terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama mereka bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan madrasah deoband, golongan ini berpendapat tidak cukup kekuatan untuk melanjutkan perjuangan. Namun demikian, madrasah deoband banyak memberikan pengaruh terhadap pembaharuan islam India dengan lahirnya tokoh-tokoh terkenal.
B.      
5
 
Gerakan Mujaddidin
Islam di India pernah mengalami kemajuan dengan berdirinya kerajaan Mughal sebagai mana yang telah dialami oleh kerajaan Turki Usmani. Kedua kerajaan tersebut mengalami kejayaan antara tahun 1500-1700 M.
Kerajaan Mughal di India sebagai symbol kejayaan Islam di India mengalami kemunduran sejak tahun 1700 M karna daerah kekuasaannya diperkecil oleh kerajaan-kerajaan Hindu yang ingin melepaskan diri. Selain itu, dari dalam kerajaan sering terjadi perang saudara yang memperebutkan kekuasaan di Delhi.
Suasana tersebut menyadarkan pemimpin-pemimpin Islam di India akan kelemahan umat Islam. Salah satu dari pemuka itu ialah Syekh Waliyullah (1703-1762). Ia lahir di Delhi dan mendapat pendidikan dari orang tuanya Syekh Abdurrahim seorang sufi dan ulama yang meiliki madrasah. Setelah dewasa, ia mengajar dimadrasah itu. Selanjutnya, ia pergi haji dan selama setahun di Hijaz ia sempat belajar pada ulama-ulama yang ada di Makkah dan Madinah. Ia kembali ke Delhi pada tahun 1732 dan meneruskan pekerjaannya yang lama sebagai guru. Disamping itu ia gemar mengarang dan banyak menghasilkan karangan-karangan, diantaranya buku Hujjatullah Al-Balighah.
Dalam karangan-karangan tersebut dituangkan pemikiran-pemikirannya tentang ide-ide pembaharuannya. Ide-ied yang dicetuskan oleh
syekh Waliyullah pada abad 18 tentang pembaharuan diteruskan oleh anaknya syekh Abdul Aziz dan beberapa tokoh lainnya yang terpengaruh oleh ide-ide yang dicetuskan oleh syekh Waliyullah melalui karya-karyanya.
Salah seorang dari murid syekh Abdul Aziz yang berpengaruh dalam gerakan melaksankan ide-ide syekh Waliyullah adalah Sayyid Ahmad Syahid. Ia lahir di Rae  Boneli pada tahun 1786. Sayyid Ahmad Syahid dimasa mudanya pernah menjadi pasukan berkuda Nawab Amir Khan. Dari situ ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan militer yang berharga baginya dalam memipmpin geraklan Mujahiddin.
6
 
Sayyid Ahmad Khan berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam India, dapat diwujudkan hanya dengan bekerja sama dengan Inggris. Inggris merupakan penguasa yang terkuat di India dan menentang kekuasaan itu tidak akan membawa kebaikan bagi umat Islam India. Hal ini akan membuat mereka tetap mundur dan akhirnya akan jauh ketinggalan dari masyarakat Hindhu India.Sayyid Ahmad dengan golongan Mujahidinnya mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara. Peperangan ini berbuah kemenangan pada kelompok Mujahidin, mereka dapat menguasai Akora yang merupakan pusat kekuatan golongan Sikh.
Menurut pemikiran sayyid Ahmad, Umat islam mundur karna agama yang mereka anut tidak lagi Islam yang murni tetapi Islam yang telah bercampur baur dengan faham dan peraktek yang berasal dari Persia dan India. Umat Islam India harus di bawah kembali pada ajaran Islam yang murni. Untuk mengetahui ajaran yang murni itu orang harus kembali pada Al-quran dan Hadits. Dengan kembali kepada kedua sumber asli ini, bidah yang melekat dalam tubuh Islam dapat dihilangkan.
Yang pertama kali harus dibersihkan ialah tauhid yang dianut umat Islam India. Keyakinan mereka harus dibersihkan dari paham dan peraktek kaum tarekat sufi, seperti kepatuhan tidak terbatas kepada guru dan Ziarah kekuburan wali untuk meminta syafaat. Selain itu, faham animisme dan adat istiadat Hindu yang masih terdapat dalam kalangan umat Islam India.
Lebih terperinci ajarannya mengnai tahuid mengandung hal-hal berikut:
  1. yang boleh disembah hanyalah tuhan, secara langsung tanpa perantara dan tanpa upacra yang berlebih-lebihan.
  2. Makhluk tidak boleh diberikan sifat-sifat tuhan, malaikat, roh, wali dan lain-lain, serta tidak mempunyai kekuasaan apa-apa untuk menolong manusia dalam mengatasi kesulitan-kesulitan. Mereka sama lemahnya dengan manusia dan sama terbatas pengetahuannya mengenai tuhan.
  3. 7
     
    Sunnah (tradisi) yang diterima hanyalah sunnah nabi dan sunnah yang timbul pada zaman khalifah yang empat. Kebiasaan membaca tahlil dan menghiasi kuburan adalah bidah yang menyesatkan dan harus dijauhi.
Selain itu, sayyid Ahmad juga menentang adanya taqlid terhadap pendapat ulama termasuk pendapat empat imam besar. Berpegang pada salah satu mazhab bukanlah hal yang penting sungguhpun ia sendiri menganut mazhab Hanafi. Ijtihad sangat diperlukan untuk memperoleh interprestasi baru terhadap ayat-ayat al-quran dan hadits.
Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam.Sistem pemerintahan imamah dibentuk pada tahun 1827, dalam menjalankan tugasnya, imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting.
Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad
Namun, sistem imamah yang didirikan oleh Sayyid Ahmad tidak bertahan lama, golongan Sikh menganggap gerakan Mujahidin mengancam kekuasaan mereka. Golongan Sikh di bantu oleh golongan-golongan non muslim seperti golongan Barakzai melangsungkan pertempuran di Balekot dan pada pertempuran inilah Sayyid Ahmad mati terbunuh.
Menurut Harun Nasution setelah meninggal Sayyid Ahmad, para pengikutnya terpecah menjadi dua golongan. Golongan pertama mereka bergerak di bidang pendidikan dengan mendirikan madrasah deoband, golongan ini berpendapat tidak cukup kekuatan untuk melanjutkan perjuangan. Namun demikian, madrasah deoband banyak memberikan pengaruh terhadap pembaharuan islam India dengan lahirnya tokoh-tokoh terkenal.
C.  Madrasah Deoband
1.      Deoband
8
 
Deobandi (Urdu: devbandī) adalah Islam Sunni Paham gerakan politik yang timbul dan memulai dari India dan Pakistan dan kemudian menyebar ke negara-negara lain, seperti Afganistan, Afrika Selatan, dan Inggris dengan kedatangan imigran dari Asia Selatan.
Nama Deobandi berasal dari kata “Deva” dan “Ban”, sebuah hutan belantara di bagian provinsi utara India, (Uttar Pradesh) India, di mana sekolah Darul Uloom “Darul ‘Ulum” Deoband yang didirikan oleh Maulana Qasim Nanautavi, Maulana Kifayatullah berada. Deobandi mengikuti fiqhAbu Hanifa dan Aqidah dari Abu Mansur Maturidi, secara historis Deobandi mengadopsi pemikiran Shah Wali-Allah, pembaharu Islam di anak benua India pada abad ke delapanbelas yang menggabungkan semua disiplin ilmu agama seperti: Teologi, ilmu Logika (Mantiq), Fiqh, Tasawwuf, Tafsir, Hadith dan Filsafat. Dalam tempo kurang lebih seratus tahun Madrasah Deobandi telah berhasil mencetak ratusan siswa yang ikut mengembangkan ilmu keislaman di Asia Selatan. dari
Darul Ulum, sebuah lembaga pendidikan di kawasan Saharanpur, India bagian utara. Lembaga ini didirikan pada tahun 1867 sebagai maktab biasa, kemudian menjadi terkenal karna peranan tokoh-tokohnya seperti M.Q Nanotawi, R.A gangohi, Mahmud Al-Hasan dan A.H Madani dalam memperjuangkan kepentingan kaum muslimin di Anak Benua India, dengan cara mereka yang khas. Karena peranannya yang demikian lembaga ini sering disebut sebagai “Gerakan Deoband”. Memang , berakhirnya kekuasaan Mughal dan semakin kokohnya posisi Inggris di anak Benua, telah membuka kesempatan bagi para pemuka muslim seperti ulama Deoband guna memperluas pengaruh di masyarakat.[2]
Deoband didirikan sebagai kontinuitas tradisi keilmuan dalam Islam serta respon terhadap kondisi lokal. Maktab yang mula-mula didirikan oleh Abu Husain di Deoband tak berbeda dengan lembaga pendidikan sejenis yang tersebar dikalangan muslim India kala itu. Karena diorganisir dimasjid setempat, kelihatannya maktab tersebut lebih ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat sekelilinganya. Hanya setelah tahun 1874, para pengasuh maktab Deoband mendapatkan bantuan termasuk tanah guna mendirikan bangunan khusus untuk pendidikan. Mulai saat itulah Nanotawi dan Gongohi yang lulusan madrasah Delhi dan pendatang ke Doeband memperkenalkan sebuah kurikulum setandar Dars Nizamiyah. Dengan pengetahuan dan reputasi para pengasuh Deoband serta sistem pendidikan yang diterapkannya, Deoband menarik minat para pencari ilmu dari luar daerah.[3]
9
 
Beberapa orang yang terlibat dalam pendirian sekolah tersebuut dididik di Delhi pada tahun 1840-an dan terligat dalam dua lembaga penting: lingkungan ulama refomis yang terkait dengan keluarga Syah Wali Allah dan Sayyid Ahmad Barelwi dan Kolese Delhi,  yang didirikan oleh Inggris untuk mengajarkan mata vpelajaran Eropa dan “Ketimuran” dengan bahasa pengantar Urdu dan bukian dengan bekas bahasa Istana (bahasa Peresia) atau bahasa-bahasa keagamaan (Sanssekerta dan Arab). Di antara mereka yang kemudian aktif di Deoband adalah anak dan ponakan seorang pengajar di kolese Delhi, Maulana Mamluk Ali: Muhammad Ya’kub Nanautawi -kepala sekolah atau shard mudarris pertama (1867-1888) dan seorang mursyid atau pembimbing spiritual yang sangat dihormati disekolah tersebut. Di Delhi ada juga Rasyid Ahmad Gangohi (1829-1905), kepala sekolah (muhtamim) awal yang juga seorang ahli hadits dan fiqih, dan haji imdadullah (1817-1899), yang pergi ke Makkah setelah pemberontakan 1857 dan menjadi pir kesayangan ulama Deobandi awal.
Dengan dimulai hanya dengan dua belas siswa, sekolah tersebut pada akhir abad kesembilan belas menerim,a ratusan siswa. Pada ulang tahunnya yang keseratus pada 1967, sekolah ini telah meluluskan 3.795 orang siswa yang dating dari seluruj pelosok India, 3.191 orang siswa dari Pakistan Timur dan Barat, dan 431 dari luar India-pakistan. Meskipun beragam asal usulnya, para siswa tersebut dipersatukan oleh pemakaian bersama bahasa Urdu dan Asrama. Para siswa ini segera menjadi sebuah pusat metropolitan. Pada tahun-tahun pertama, para siswanya datang dari Asia Tengah, Afganistan dan seluruh penjuru India; pada akhir abad kedua pulu, terdapat siswa dari Afrika Timur dan Selatn, dan juga dari Eropa dan Amerika.[4]
10
 
Deobandi pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan yang memfokuskan diri dalam dunia pendidikan. Biasanya para alumni dari Sekolah ini sangat sulit memisahkan diri dari nama Deobandi seusai tamat pendidikannya, sebagai contoh banyak mereka yang menggunakan nama tambahan di belakang namanya semisal Maulana Shafi’ Usmani Deobandi, Maulana Kifayatullah Deobandi dsb. Kerekatan nama pendidikan ini dengan para alumninya merupakan tolok-ukur dalam berbagai gerakan yang dibentuk oleh para alumni.
Adapun Gerakan Da’wah yang berkiblat kepada Deobandi adalah gerakan Isya’at Tauhid Wassunnah, sebagai lembaga Da’wah yang didirikan oleh Maulana Hussain Ali pada tahun 1957 di Provinsi Punjab. Hingga saat ini jama’ah ini bekerja dalam penegakkan Tauhid dan penerapan Sunnah, serta menentang hal-hal yang dianggap bid’ah dan khurafat. Pada dasarnya gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap faham Brelvi yang berkembang pesat diseluruh provinsi Pakistan dan khususnya di provinsi Sind.
Sekelompok besar ulama di Darul Ulum Deoband telah menentang pendirian negara yang didirikan di sepanjang garis sektarian, khususnya tuntutan Muhammad Ali Jinnah Muslim Liga Partisi Inggris-India menjadi Muslim dan bagian non-Muslim Ia telah mengemukakan bahwa alasan yang nyata bagi oposisi mereka terhadap Pemisahan adalah keinginan mereka untuk mengislamkan seluruh India [5]
           
Maulana Husain Ahmad Madani adalah salah satu ulama yang menentang gagasan Pakistan. Dia juga Syekh-ul-Hadits (Kepala departemen hadits) dari Darul Ulum Deoband dan memimpin Jamiat Ulema-e-Hind, sebuah organisasi ulama, yang melihat tidak ada Islam dalam gagasan Pakistan. Dia berkata: "Semua harus berusaha bersama-sama untuk suatu pemerintahan yang demokratis di mana Hindu, Muslim, Sikh, Kristen dan Parsis termasuk kebebasan tersebut adalah sesuai dengan Islam.." Sekolah advokat versi ortodoks Islam dan telah berulang kali menjauhkan diri dari ekstremisme agama.
11
 
Pada tahun 1857, British East India Company meletakkan dengan tangan berat gerakan kemerdekaan dimulai oleh pasukan India utara yang berbeda, yang dilakukan atas nama Bahadur Shah Zafar Gurakani dinyatakan tak berdaya. Kaisar Zafar menjadi Kaisar Mughal terakhir, karena ia digulingkan tahun berikutnya dan diasingkan ke Burma, dengan banyak anak-anaknya dihukum mati. Hal ini ditandai saat mani untuk kesadaran Indo-Islam, khusus untuk para elite Islam didirikan di India utara, yang cenderung untuk melihat kekalahan 1857 sebagai akhir politik mereka dan awal dari apa yang bisa menjadi masa gelap Islam sejarah di India.
Dalam situasi ini, sekelompok teolog dipelajari, dipimpin oleh Maulana Muhammad Qasim Nanautawi, mendirikan Darul Ulum Seminari di kota Deoband, dalam rangka melestarikan budaya Indo-Islam dan melatih pemuda dalam pengetahuan Islam. Dasar dari Darul Ulum Deoband dibaringkan di 1283 H (21 Mei 1866 M) di bawah pohon delima. Nanautawi mengklaim bahwa ia telah diilhami untuk melakukannya oleh mimpi di mana Nabi Muhammad berbicara kepadanya.[6] Filosofi pedagogis Deoband difokuskan pada pengajaran mengungkapkan ilmu-ilmu Islam, yang dikenal sebagai manqulat, dengan penduduk Muslim India
Nanautawi melembagakan metode modern belajar: Mengajar di dalam kelas, kurikulum yang tetap dan dipilih dengan cermat, ceramah oleh fakultas yang berbeda diakui sebagai pemimpin di bidang mereka, masa ujian, pers penerbitan dan sebagainya. Fakultas menginstruksikan mahasiswa terutama dalam bahasa Urdu, lingua franca dari bagian urban di wilayah ini, dan dilengkapi dengan studi bahasa Arab (untuk alasan teologis) dan Persia (untuk alasan budaya dan sastra). Pada waktunya, ini juga tanpa disadari disemen hubungan tumbuh dari bahasa Urdu dengan masyarakat Muslim utara India. Para pendiri sadar memutuskan untuk bercerai seminari dari partisipasi politik atau pemerintah. Sebaliknya, itu adalah untuk dijalankan sebagai sebuah lembaga otonom, yang didukung oleh kontribusi keuangan sukarela dari umat Islam pada umumnya.
12
 
 Lebih dari 15.000 lulusan telah pergi untuk menemukan madrasah serupa (sekolah) di seluruh Asia Selatan dan lebih jauh, para pengikut teologi ini sekolah sering digambarkan sebagai pengikut Deobandi sekolah pemikiran.
2. Pola pendidikan
Kurikulum Deoband adalah berdasarkan silabus Indo-Islam abad ke-17 yang dikenal sebagai Dars Nizami. Kurikulum inti mengajarkan hukum Islam (syariah), hukum Islam (fiqh), spiritualitas Islam tradisional (tasawuf, yang merupakan fokus tasawuf), serta bidang lainnya beberapa studi Islam.[7]
Sepeninggalan Sayyid Ahmad Syahid, gerakan intelektual melawan kolonial Inggris terus dilakukan oleh para pengikut Sayyid Ahmad Syahid. Pada tahun 1857 madrasah Deoband melalui Mawlana Muhammad Qasim Nanantawi dan Mawlana Ishaq, seorang cucu dari Syah Abdul Aziz ditingkatkan menjadi perguruan tinggi.
Ide-ide Syah Waliullah yang kemudian ditonjolkan oleh sayyid Ahmad Syahid dan gerakan Mujahidin, itulah menjadi pegangan bagi Deoband[8]
Ide-ide itu meliputi:
  • Bidang agama, pemurnian ajaran Islam India dari paham-paham salah yang dibawa tarekat dan dari keyakinan animisme lama dan pemurnian dari perkatek keagamaan seperti bid'ah.
  • Bidang politik dan pendidikan, Deoband mengambil sikap anti Inggris. Sikap anti inggris ini dilator belakangi oleh para pendiri deoband mayoritas pemuka gerakan mujahidin. Mereka mendirikan deoband untuk menentang pendidikan sekuler inggris dan juga sebagai reaksi terhadap usaha kristenisasi di India.
13
 
3. Dampak Sekolah Deoband
Banyak sekolah-sekolah Islam modern di India, Bangladesh dan Pakistan - dan baru-baru di Afghanistan, Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan - serta di ratusan tempat lain di seluruh dunia berafiliasi, atau teologis terkait, untuk Darul Ulum Deoband . seminari Terkenal telah ditetapkan oleh lulusannya, misalnya Nadwatul Ulama di Lucknow, Madrasah In'amiyyah  Camperdown, dekat Durban di Afrika Selatan, dan tiga seminari penting di Pakistan, yaitu. Darul Ulum Karachi, Jamiah Ashrafia Lahore[9], dan Jamia Zia-ul-Quran (masjid Bagh-wali Al-maroof), Faisalabad.  
Gerakan Kemerdekaan India Dalam pertemuan Jamiat Ulema-e-Hind di Calcutta, pada tahun 1926, para peserta termasuk lulusan Darul Ulum, Deoband dan mereka mendukung kelompok yang menyerukan kemerdekaan lengkap India dari pemerintahan Inggris. Kongres Nasional India adalah untuk mendeklarasikan kemerdekaan lengkap tujuan tiga tahun kemudian, dalam sidang di Lahore.
Kebebasan terkenal tempur Khan Abdul Gaffar Khan, yang mengunjungi Darul Ulum selama kunjungannya ke India pada tahun 1969, telah berkata[10]: "Saya telah memiliki hubungan dengan Darul Ulum sejak saat Syaikh-ul-Hind, Maulana Mehmud Hasan, adalah hidup. Duduk di sini, kami digunakan untuk membuat rencana untuk gerakan kemerdekaan, bagaimana kita bisa mengusir Inggris dari negara ini dan bagaimana kita bisa membuat India bebas dari kuk perbudakan dari Raj Inggris. Lembaga ini telah melakukan upaya besar untuk kebebasan negara ini "


14
 
BAB III
KESIMPULAN
Kesemenahan inggris terhadap masyarakat India dan terjadinya kesenjangan perlakuan antara islam dan hindu India dalam hak sebagai warga Negara, menuai kritik dari para tokoh India, sehingga gerakan anti inggris bermunculan.
Gerakan Mujahidin di pelopori oleh Sayyid Ahmad mencoba memulai peperangan terhadap golongan sikh di India Utara.
Ide yang dimunculkan oleh Sayyid Ahmad ialah merubah sistem pemerintahan dari monarki kepada sistem imamah, yaitu negara dipimpin oleh seorang imam., imam mengangkat seorang khalifah sebagai wakilnya di kota-kota penting.
Diantara tugas mereka yaitu mengumpulkan zakat utnuk pemerintahan imam dan mencari mujahidin untuk meneruskan jihad
Dari para Murid Syah Waliullah berdirilah dua perguruan tinggi di India Deoband dan Aligarh. Yang menjadi perbedaan faham keagamaan dan politik Aligarh dan Deoband. Dari segi politik Deoband anti terhadap Inggris dan Aligarh justru sebaliknya pro terhadap Inggris. Dari segi keagamaan Deoband tetap mempertahankan taklid kepada ulama' klasik dan menutup pintu ijtihad, beda halnya dengan gerakan Aligarh mereka tidak menutup pintu ijtihad. Tetapi pada akhirnya sikap Deoband yang tadinya keras bisa melembut dan berubah terhadap sikap yang tadinya mempertahankan tradisi dan menutup pintu ijtihad, perlahan mulai membuka pintu ijtihad.
Hingga berdirinya Negara Pakistan yang dipelopori oleh Iqbal dan Jinnah, Deoband dan Aligarh telah banyak melahirkan tokoh-tokoh India seperti Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Nawab Muhsin Al-Mulk, Viqar Al-Mulk , Altaf Husain Ali , Chiragh Ali, Maulvi Nazir Ahmad, Muhammad Shibli Nu'mani.

15
 
DAFTAR PUSTAKA

Nasution Harun, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Pergerakan, Jakarta:Bulan Bintang, 1990
Ensiklopedi Islam Indonesia, penerbit Djambotan, Jakarta: 1992
Syaukani Ahmad,  Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia Bandung, Bandung: 1997
Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, PT Mizan, jilid pertama, Bandung: 2007
Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993


[1] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, 1990, h.160

[2] Ensiklopedi Islam Indonesia, penerbit Djambotan, Jakarta: 1992 h. 210
[3] Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Moderen di India, Pustaka Setia Bandung, Bandung: 1997 h. 70
[4] Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, PT Mizan, jilid pertama, Bandung: 2007 h. 367-368
[5] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990, h.163
[6] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. h. 174-175
[7] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990, h.175
[8] Ibid, h.163

[9] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan, Bandung: Mizan, 1993.h.132
[10]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1990. h.177

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Translate

Jalanku Untuk-MU